Kamis, 07 Oktober 2010

ATLANTIS = INDONESIA

Mitos tentang Peradaban Atlantis pertama kali dicetuskan oleh seorang filsafat Yunani kuno bernama Plato (427 – 347 SM) dalam buku Critias dan Timaeus
Dalam buku Timaeus Plato menceritakan bahwa dihadapan selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya,
di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.
Dibagian lain pada buku Critias adalah adik sepupu dari Critias mengisahkan tentang Atlantis. Critias adalah murid dari ahli filsafat Socrates, tiga kali ia menekankan keberadaan Atlantis dalam dialog. Kisahnya berasal dari cerita lisan Joepe yaitu moyang lelaki Critias, sedangkan Joepe juga mendengarnya dari seorang penyair Yunani bernama Solon (639-559 SM).
Solon adalah yang paling bijaksana di antara 7 mahabijak Yunani kuno, suatu kali ketika Solon berkeliling Mesir, dari tempat pemujaan makam leluhur mengetahui legenda Atlantis.
Garis besar kisah pada buku tersebut Ada sebuah daratan raksasa di atas Samudera Atlantik arah barat Laut Tengah yang sangat jauh, yang bangga dengan peradabannya yang menakjubkan. Ia menghasilkan emas dan perak yang tak terhitung banyaknya. Istana dikelilingi oleh tembok emas dan dipagari oleh dinding perak. Dinding tembok dalam istana bertahtakan emas, cemerlang dan megah. Di sana, tingkat perkembangan
peradabannya memukau orang. Memiliki pelabuhan dan kapal dengan perlengkapan yang sempurna, juga ada benda yang bisa membawa orang terbang. Kekuasaannya tidak hanya terbatas di Eropa, bahkan jauh sampai daratan Afrika. Setelah dilanda gempa dahsyat,
tenggelamlah ia ke dasar laut beserta peradabannya, juga hilang dalam ingatan orang-orang.
Jika dibaca dari sepenggal kisah diatas maka kita akan berpikiran bahwa Atlantis merupakan sebuah peradaban yang sangat memukau. Dengan teknologi dan ilmu pengetahuan pada waktu itu sudah menjadikannya sebuah bangsa yang besar dan mempunyai kehidupan yang makmur.
Tapi kemudian saya mempunyai pertanyaan, apakah itu hanya sebuah cerita untuk pengantar tidur pada jamannya Plato atau memang Plato mempunyai bukti2 kuat dan otentik bahwa atlantis itu benar-benar pernah ada dalam kehidupan di bumi ini?
Terdapat beberapa catatan tentang usaha para ilmuwan dan orang-orang dalam pencarian untuk membuktikan bahwa Atlantis itu benar-benar pernah ada.
Menurut perhitungan versi Plato waktu tenggelamnya kerajaan Atlantis, kurang lebih 11.150 tahun yang silam. Plato pernah beberapa kali mengatakan, keadaan kerajaan Atlantis diceritakan turun-temurun. Sama sekali bukan rekaannya sendiri. Plato bahkan pergi ke Mesir minta petunjuk biksu dan rahib terkenal setempat waktu itu. Guru Plato yaitu Socrates ketika membicarakan tentang kerajaan Atlantis juga menekankan, karena hal itu adalah nyata, nilainya jauh lebih kuat dibanding kisah yang direkayasa.
Jika semua yang diutarakan Plato memang benar-benar nyata, maka sejak 12.000 tahun silam, manusia sudah menciptakan peradaban. Namun di manakah kerajaan Atlantis itu? Sejak ribuan tahun silam orang-orang menaruh minat yang sangat besar terhadap hal ini. Hingga abad ke-20 sejak tahun 1960-an, laut Bermuda yang terletak di bagian barat Samudera Atlantik, di kepulauan Bahama, dan laut di sekitar kepulauan Florida pernah berturut-turut diketemukan keajaiban yang menggemparkan dunia.
Suatu hari di tahun 1968, kepulauan Bimini di sekitar Samudera Atlantik di gugusan Pulau Bahama, laut tenang dan bening bagaikan kaca yang terang, tembus pandang hingga ke dasar laut. Beberapa penyelam dalam perjalanan kembali ke kepulauan Bimini, tiba-tiba ada yang menjerit kaget. Di dasar laut ada sebuah jalan besar! Beberapa penyelam secara bersamaan terjun ke bawah, ternyata memang ada sebuah jalan besar membentang tersusun dari batu raksasa. Itu adalah sebuah jalan besar yang dibangun dengan menggunakan batu persegi panjang dan poligon, besar kecilnya batu
dan ketebalan tidak sama, namun penyusunannya sangat rapi, konturnya cemerlang. Apakah ini merupakan jalan posnya kerajaan Atlantis?
Awal tahun ‘70-an disekitar kepulauan Yasuel Samudera Atlantik, sekelompok peneliti telah mengambil inti karang dengan mengebor pada kedalaman 800 meter di dasar laut, atas ungkapan ilmiah, tempat itu memang benar-benar sebuah daratan pada 12.000 tahun silam. Kesimpulan yang ditarik atas dasar teknologi ilmu pengetahuan, begitu mirip seperti yang dilukiskan Plato! Namun, apakah di sini tempat tenggelamnya kerajaan Atlantis?
Tahun 1974, sebuah kapal peninjau laut Uni Soviet telah membuat 8 lembar foto yang jika disarikan membentuk sebuah bangunan kuno mahakarya manusia. Apakah ini dibangun oleh orang Atlantis?
Tahun 1979, ilmuwan Amerika dan Perancis dengan peranti instrumen yang sangat canggih menemukan piramida di dasar laut “segitiga maut” laut Bermuda.
Panjang piramida kurang lebih 300 meter, tinggi kurang lebih 200 meter, puncak piramida dengan permukaan samudera hanya berjarak 100 meter, lebih besar dibanding piramida Mesir. Bagian bawah piramida terdapat dua lubang raksasa, air laut dengan kecepatan yang menakjubkan mengalir di dasar lubang.
Piramida besar ini, apakah dibangun oleh orang-orang Atlantis? Pasukan kerajaan Atlan pernah menaklukkan Mesir, apakah orang Atlantis membawa peradaban piramida ke Mesir? Benua Amerika juga terdapat piramida, apakah berasal dari Mesir atau berasal dari kerajaan Atlantis?
Tahun 1985, dua kelasi Norwegia menemukan sebuah kota kuno di bawah areal laut “segitiga maut”. Pada foto yang dibuat oleh mereka berdua, ada dataran, jalan
besar vertikal dan horizontal serta lorong, rumah beratap kubah, gelanggang aduan (binatang), kuil, bantaran sungai dll. Mereka berdua mengatakan mutlak percaya terhadap apa yang mereka temukan itu adalah Benua Atlantis seperti yang dilukiskan oleh Plato. Benarkah itu?
Yang lebih menghebohkan lagi adalah penelitian yang dilakukan oleh Aryso Santos, seorang ilmuwan asal Brazil. Santos menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang ini disebut Indonesia.
Dalam penelitiannya selama 30 tahun yang ditulis dalam sebuah buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization” dia menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.
Santos menetapkan bahwa pada masa lalu Atlantis itu merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Sedangkan menurut Plato Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.
Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.
Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”
Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Ini ada lagi yang lebih unik dari Santos dan kawan-kawan tentang usaha untuk menguak misteri Atlantis. Sarjana Barat secara kebetulan menemukan seseorang yang mampu mengingat kembali dirinya sebagai orang Atlantis di kehidupan sebelumnya “Inggrid Benette”. Beberapa penggal kehidupan dan kondisi sosial dalam ingatannya masih membekas, sebagai bahan masukan agar bisa merasakan secara gamblang peradaban tinggi Atlantis. Dan yang terpenting adalah memberikan kita petunjuk tentang mengapa Atlantis musnah........!


Quantcast
Nabi Adam Alaihis Salam (4096 – 3096 SM )
Nabi Ibrahim Alaihis Salam (1861 – 1686 SM )
Nabi Musa Alaihis Salam (1426 – 1316 SM )
Nabi Daud Alaihis Salam (1047 – 973 SM )
Nabi Isa Alaihis Salam ( 1 – 22 M )
NABI MUHAMMAD S.A.W. ( 571 – 634 M )
Jika ada makhluk sebelum itu bisa jadi mereka bukan bani Adam,bukan keturunan Nabi Adam Alaihis Salam

Selasa, 05 Oktober 2010

sifat shalat Nabi Muhammad SAW.Sifat Sholat Nabi Tidak mendahului imam dalam bertakbir Bila seseorang shalat di belakang imam, janganlah mendahului imam dalam bertakbir karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makmum mendahului imamnya. Seperti dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَلاَ تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَلَا تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ... الحديث “Hanyalah imam itu dijadikan untuk diikuti. Maka bila ia bertakbir, bertakbirlah kalian dan jangan kalian bertakbir hingga ia bertakbir. Bila ia ruku’ maka ruku’lah kalian dan jangan kalian ruku’ sampai ia ruku’ …” (HR. Abu Dawud no. 603, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud) Mengangkat tangan Mengangkat kedua tangan ketika memulai shalat merupakan perkara yang disyariatkan, bahkan perkara yang disepakati (ijma’). (Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/296) Telah dinukilkan pernyataan ijma’ ini oleh Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm, dan Ibnus Subki. (Al-Isyraf ‘ala Madzahibil ‘Ulama’ 2/6, Nailul Authar 2/11) Akan tetapi, telah dinukilkan dari Al-Imam Malik rahimahullahu riwayat tidak mengangkat tangan sama sekali. Namun demikian, dikatakan oleh Al- Imam Zainuddin Abul Fadhl Al-‘Iraqi dalam Tharhut Tatsrib (2/446) bahwa riwayat ini syadz (ganjil). Demikian pula Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullahu menafikannya dan menyatakan bahwa periwayatan tersebut nampaknya tidak benar dari Malik, karena hadits mengangkat tangan adalah hadits yang disepakati keshahihannya dan tidak didapati celaan seorang pun terhadap perawinya. (Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/296) Namun demikian para ulama berselisih, apakah hukumnya wajib atau mustahab. Sebagian besar ahlul ilmi, yakni jumhur dan termasuk dalam hal ini imam yang empat, mengatakan hukumnya sunnah (Subulus Salam 2/169). Dalilnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan perkara tersebut sebagaimana dalam hadits al-musi’i shalatahu di atas. Beliau hanya mengajarkan takbir saja. Seandainya mengangkat tangan itu seperti hukum takbir yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentunya beliau akan mengajarkan pada orang tersebut (Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/297). Pendapat inilah yang rajih, wallahu a’lam. Kata Al-Imam Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu, mengangkat tangan dalam shalat tidaklah wajib. Tidak ada ulama yang berpendapat demikian kecuali Dawud Azh-Zhahiri. Ia mengatakan wajib mengangkat tangan ketika takbiratul ihram. Namun sebagian pengikut madzhab/murid-muridnya menyelisihi pendapatnya ini. Mereka tidak mewajibkannya. (Ikmalul Mu'lim 2/261-262) Yang berpendapat wajib di antaranya adalah Al-Humaidi, Dawud Azh-Zhahiri, Ahmad bin Yasar, ‘Ali ibnul Madini, Ishaq, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Khuzaimah, dan Al-Auza’i. (Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/296-297, Nailul Authar 2/11) Ibnu Hazm rahimahullahu mengatakan, “Mengangkat tangan ketika takbiratul ihram pada awal shalat adalah perkara fardhu. Shalat tidak teranggap (sah) tanpa perkara ini.” (Al-Muhalla 2/264) Dalil mereka di antaranya adalah hadits: صَلُّوا كَمَا رَأَيتُمُنِي أُصَلِي “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533) Keadaan tangan ketika bertakbir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengangkat tangan beliau bersamaan dengan takbir, di waktu lain sebelum takbir dan pernah pula setelah bertakbir. Dalilnya di antaranya hadits-hadits berikut ini: - Bersamaan dengan takbir Abdullah ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: رَأَيتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم افْتَتَحَ التَّكبِيرَ فِي الصَّلاَةِ، فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ يُكَبِّرُ حَتَّى يَجْعَلَهُمَا حَذْوَ مَنْكِبَيهِ ... “Aku pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat dengan bertakbir, lalu beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir, hingga beliau menjadikan kedua tangannya setentang (sejajar) dengan kedua pundaknya….” (HR. Al-Bukhari no. 736) Mengangkat tangan bersamaan dengan bertakbir ini merupakan pendapat dalam madzhab Hanafiyah, juga pendapat Asy-Syafi’i dan pendapat Malikiyah. - Sebelum takbir Ditunjukkan dalam hadits Abdullah ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma juga, ia berkata: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُوْنَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ كَبَّرَ... “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bangkit mengerjakan shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga keduanya setentang (sejajar) dengan kedua pundaknya, kemudian beliau bertakbir….” (HR. Muslim no. 860 dan Al-Bukhari dalam kitabnya Juz Raf’il Yadain) - Setelah takbir Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كاَنَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ... “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila selesai bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya hingga kedua tangannya sejajar dengan kedua telinga beliau....” (HR. Muslim no. 863 dan Al-Bukhari dalam Juz Raf’il Yadain) Abu Qilabah mengabarkan: أَنّهُ رَأَى مَالِكَ ابْنَ الْحُوَيرِثِ إِذَا صَلَّى كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيهِ، وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ رَفَعَ يَدَيْهِ، وَحَدَّثَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَنَعَ هَكَذَا Ia pernah melihat Malik ibnul Huwairits apabila shalat maka ia bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Bila ia ingin ruku’, ia mengangkat kedua tangannya. Demikian pula ketika mengangkat kepalanya dari ruku’, ia mengangkat kedua tangannya dan ia menyampaikan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal tersebut. (HR. Muslim no. 862 dan Al-Bukhari no. 737) Al-Imam Al-Albani rahimahullahu menerangkan, “…Masing-masing cara yang telah disebutkan merupakan sunnah yang tsabitah (pasti ketetapannya) dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga semestinya seorang muslim mengamalkannya dalam shalatnya. Jangan sampai ia tinggalkan salah satu dari tiga cara ini. Yang sepantasnya, di satu waktu ia melakukan yang ini, di kali lain cara yang itu, dan di waktu selanjutnya ia amalkan cara yang satunya lagi.” (Al-Ashl 1/198-199) Tata cara mengangkat tangan Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangannya, beliau membentangkan/meluruskan jari-jemarinya. Satu jari dengan jari yang lain tidak terlalu direnggangkan, namun tidak pula dirapatkan/digabungkan satu dengan yang lainnya, dan diarahkan ke kiblat (Fathu Dzil Jalali wal Ikram 3/61). Ini sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: كاَنَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ مَدًّا “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila masuk dalam shalatnya (memulai shalatnya dengan takbiratul ihram), beliau mengangkat tangannya dengan membentangkan jari-jarinya.” (HR. Abu Dawud no. 753 dan selainnya, dishahihkan oleh guru kami Al-Imam Al-Wadi’i rahimahullahu dalam Al-Jami’ush Shahih 2/95) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh dalam mengangkat kedua tangan beliau, sampai-sampai terlihat kedua ketiak beliau. Sebagaimana kata Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Seandainya aku berada di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam niscaya aku dapat melihat kedua ketiak beliau.” (HR. Abu Dawud no. 746, shahih menurut syarat Muslim, seperti kata guru kami Al-Imam Al-Wadi’i rahimahullahu dalam Al-Jami’ush Shahih 2/96) Dalam hadits yang telah dibawakan, disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangannya hingga setentang (sejajar) dengan kedua pundak beliau, dan di waktu lain beliau mengangkat keduanya hingga sejajar dengan kedua telinga beliau. Karena dua tata cara ini ada dalilnya, maka keduanya merupakan sunnah dan dua-duanya bisa diamalkan. Al-Imam Abul Hasan As-Sindi rahimahullahu berkata, “Tidaklah saling bertentangan di antara amalan-amalan/tata cara yang berbeda-beda. Karena boleh jadi semua tata cara tersebut terjadi di waktu-waktu yang berbeda. Sehingga, semuanya merupakan sunnah, terkecuali ada dalil yang menunjukkan mansukh (terhapus)nya sebagian tata cara tersebut…” (Hasyiyah Sunan An-Nasa’i lis Sindi 2/122) Faedah Fadhilatusy Syaikh Al-Imam Al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullahu mengatakan, “Ulama –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati mereka– berbeda pendapat tentang sejumlah ibadah yang disebutkan dengan cara yang beragam. Apakah yang afdhal mencukupkan satu cara saja, ataukah yang afdhal melakukan semuanya pada waktu-waktu yang berbeda, ataukah yang afdhal menjamak (mengumpulkan) apa yang mungkin dijamak? Yang benar dalam hal ini adalah pendapat kedua yang pertengahan, yaitu ibadah yang datang dengan cara yang beragam sekali waktu diamalkan satu cara dan di kali lain dilakukan cara yang satunya lagi.” Beliau melanjutkan, “Kalau engkau hanya mengamalkan satu cara dan meninggalkan cara lain, niscaya akan mati cara yang lain. Karena suatu sunnah tidak mungkin tetap hidup terkecuali bila kita sekali waktu mengamalkannya, di kali lain mengamalkan yang lain lagi. Alasan lain, bila seseorang di satu waktu mengamalkan satu cara, di kali lain ia melakukan cara yang lain lagi, niscaya hatinya akan hadir ketika menunaikan amalan yang diajarkan oleh As-Sunnah1. Perkara ini nyata, dapat disaksikan. Karena itulah orang yang setiap kali istiftah mengucapkan: “Subhanaka allahumma wa bihamdika.... “, engkau dapati dirinya dari awal ia bertakbir langsung lanjut dengan “Subhanaka allahumma wa bihamdika...” tanpa ia sadari. Karena ia sudah terbiasa dengan bacaan tersebut. Akan tetapi bila suatu waktu ia mengucapkan bacaan ini dan di kali lain ia mengucapkan doa yang lain, niscaya ia akan (lebih) perhatian. Ada beberapa faedah mengamalkan ibadah yang memiliki tata cara beragam: 1. Mengikuti sunnah 2. Menghidupkan sunnah 3. Menghadirkan hati (dalam melakukan ibadah) Bisa juga kita dapati faedah yang keempat: Bila salah satu cara dari beberapa cara itu ada yang lebih pendek/ringkas dari yang lain, seperti zikir setelah shalat, maka seseorang terkadang ingin mempercepat selesai dari zikir tersebut, sehingga ia mencukupkan dengan mengucapkan Subhanallah 10 kali, Alhamdulillah 10 kali, dan Allahu akbar 10 kali. Maka orang ini melakukan amalan yang menepati As-Sunnah dengan waktu yang lebih singkat, karena ingin menunaikan hajatnya. Dan tidak ada keberatan/dosa bagi seseorang melakukan hal itu, apatah lagi bila ada hajatnya yang ingin ditunaikan....” (Asy-Syarhul Mumti’ 3/19-20) Perhatian Sebagian orang mengangkat kedua tangannya tanpa melewati dadanya, seakan-akan ia memberi isyarat dengan kedua tangannya. Yang seperti ini lebih mirip dengan perbuatan sia-sia/bermain-main dalam shalat. Ini sama sekali bukan termasuk dari ajaran As-Sunnah. (Fathu Dzil Jalali wal Ikram 3/61) Faedah Al-Hafizh rahimahullahu mengatakan, “Tidak ada dalil yang menunjukkan perbedaan lelaki dan perempuan dalam hal mengangkat tangan.” (Fathul Bari 2/287) Adapun Hanafiyah berpandangan, lelaki mengangkat tangannya sampai kedua telinganya sedangkan perempuan sampai dua pundaknya, karena ini lebih menutup (cukup) baginya. Dan dinukilkan dari Ummud Darda’ radhiyallahu ‘anha bahwa beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dua bahunya. Demikian pula pendapat Az-Zuhri. Sementara ‘Atha’ bin Abi Rabah dan Hammad bin Abi Sulaiman berpendapat wanita mengangkat kedua tangannya sejajar payudaranya, dan ini yang diamalkan Hafshah bintu Sirin rahimahallah. ‘Atha’ bin Abi Rabah rahimahullahu mengatakan bahwa wanita memiliki keadaan yang berbeda dengan laki-laki. Kalaupun dia tidak melakukan yang demikian, maka tidak mengapa. (Tharhut Tatsrib 2/450) Samahatusy Syaikh Al-Imam Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullahu berkata, “Yang benar, tidak ada perbedaan antara shalat laki-laki dan shalat perempuan. Perbedaan yang disebutkan oleh sebagian fuqaha tersebut tidak ada dalilnya. Sementara ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” merupakan pokok yang mencakup keseluruhan shalat. Juga, pensyariatan agama ini mencakup laki-laki maupun perempuan, kecuali bila ada dalil yang memang mengkhususkannya. Karena itu, sunnah bagi wanita untuk shalat sebagaimana laki-laki shalat, baik dalam ruku’, sujud, bacaan, meletakkan kedua tangan di atas dada, ataupun yang lainnya. Ini lebih utama. Demikian pula dalam hal meletakkan tangan di atas lutut ketika ruku’, meletakkan tangan di atas tanah ketika sujud sejajar pundak atau sejajar telinga, meluruskan punggung ketika ruku’, apa yang dibaca ketika ruku’, sujud, setelah bangkit dari ruku’, setelah bangkit dari sujud, ataupun di antara dua sujud. Semuanya sama dengan laki-laki, sebagai pengamalan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya. (Majmu’ Fatawa 11/80) (Insya Allah bersambung) 1 Ia akan perhatian dengan amalan/gerakan yang sedang dilakukannya. Beda halnya bila ia terbiasa terus-menerus hanya melakukan satu cara, niscaya gerakannya ibarat gerakan yang spontan, tanpa harus dipikir terlebih dahulu. Karena sudah terbiasa dilakukan, sehingga hatinya tidak ia hadirkan. Shalatnya bergulir begitu saja tanpa ia pikirkan apa saja yang telah dilakukan dan diucapkannya dalam shalat tersebut. Wallahu a’lam. -pen.

SURGASifat Penduduk Ahli Surga dan Neraka Senin, 20 September 2010 قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الجنَّةِ : كُلُّ ضَعِيْفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ ، أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأََهْلِ النَّارِ: كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ (صحيح البخاري) Sabda Rasulullah saw: “Ketahuilah, maukah kukabarkan pada kalian tentang (sebagian sifat) penduduk sorga?, semua yang lemah (tidak berdaya), dan rendah hati (berbuat seakan tak berdaya karena rendah hati), jika mereka berdoa dengan bersumpah atas nama Allah, maka akan langsung dikabulkan, maukah kukabarkan kalian tentang (sebagian sifat) penduduk neraka?, semua yang suka dengan pertengkaran, suka mengumpulkan harta namun sulit mengeluarkannya (tamak akan harta namun kikir), dan menyombongkan diri” (Shahih Bukhari)

RATIBPemandangan Yang Indah Senin, 27 September 2010 قَالَ أَنَسُ ابْنُ مَالِك رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : مَا نَظَرْناَ مَنْظَرًا كاَنَ أَعْجَبَ إِلَيْنَا مِنْ وَجْهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (صحيح البخاري) Berkata Anas bin Malik Ra : "Kami belum pernah melihat pemandangan yang lebih menakjubkan dari wajah nabi shallallahu 'alaihi wasallam". (Shahih Al Bukhari

Walisanga


Menurut Kitab Kanzul Ulum Ibnul Bathuthah, wali sanga berganti susunan orangnya sebanyak 5 (lima) kali sebagai berikut:Sayyid Jummadil Kubra/Sayyid Jammaluddin Akbar berdakwah di tanah Jawa tahun 1399 M. Pada sekitar 1404 M Sayyid Jumadil Kubra meninggalkan Pulau Jawa untuk kembali ke kampung halamannya di Samarkhan Azharbaijan dengan maksud melaporkan temuan dan pengalaman dari apa yang telah beliau lakukan di Pulau Jawa kepada kekhalifahan Turki Sultan Muhammad I sekaligus beliau mengusulkan untuk segera menyusun kekuatan dakwah yang akan di tugaskan untuk menyiarkan agama islam ke pulau Jawa. Dalam pertemuannya dengan Sultan Muhammad I(raja Turki saat itu) Sayyid Jumadil Kubra mengusulkan agar Sultan Muhammad I mengundang beberapa Ulama’ dari wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara yang memiliki karomah besar untuk di ajak musyawarah membahas kegiatan dakwah islam dan pengembangannya di pulau Jawa.Dewan wali sanga 1 tahun 1404:1. Syaikh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki ahli Tatanegara, dakwah di Jawa Timur, wafat di Gresik tahun1419.2. Maulana Ishak, asal Samarkand Rusia, ahli pengobatan, dakwah di Jawa lalu pindah dan wafat di Pasai.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubra, asal Mesir, dakwah keliling, makam di Troloyo-Trowulan Mojokerto.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, asal Maghrib-Maroko, pendakwah keliling, di kenal dengan sebutan Sunan Geseng, makam di Jatinom Klaten tahun 1465.
5. Maulana Malik Isro’il, asal Turki, ahli Tatanegara, di makamkan di Gunung Santri antara Serang-Merak tahun 1435.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, asal Persia Iran, ahli pengobatan, makam di gunung santri tahun 1435.
7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina, pandakwah keliling, di makamkan tahun 1462 di samping Masjid Banten Lama.
8. Maulana Aliyuddin, asal Palestina, pendakwah keliling, di makamkan tahun 1462 di samping Masjid Banten Lama.
9. Syaikh Subakrir, ahli menumbali tanah angker yang di huni jin jahat, beberapa waktu di Jawa lalu Kembali dan wafat di Persia tahun 1462.

Dewan Wali Sanga II tahun 1436 M:
1. Raden Rahmat Ali Rahmatullah, berasal dari Cempa Maungthai Selatan, dating Tahun 1421 dan di kenal sebagai Sunan Ampel (Surabaya) menggantikan Malik Ibrahim yang wafat.
2. Sayid Ja’far Sodiq, asal Palestina, datang tahun 1436 dan tinggal di Kudus sehingga di kenal sebagai Sunan Kudus, menggantikan Malik Isro’il.
3. Syarif Hidayatullah, tahun 1436 menggantikan Ali Akbar yang wafat.

Dewan Wali Sanga III tahun 1463 M:
1. Raden Paku atau Maulana A’inul Yaqin pengganti ayahnya pulang ke Pasai, kelahiran Blambangan, putra dari Maulana Ishak, berjuluk Sunan Giri dan makamnya di Gresik.
2. Raden Sahid atau Sunan Kalijaga, putra Adipati Tuban bernama Wilatikta, yang menggantikan Syekh Subakhir yang kembali ke Persia.
3. Raden Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang kelahiran Ampel, putra Sunan Ampel yang menggantikan Hasanuddin yang wafat.
4. Raden Qosim atau Sunan Drajat kelahiran Ampel, putra Sunan Ampel yang menggantikan Aliyyuddin yang wafat.

Dewan Wali Sanga IV tahun 1466 M:
1. Raden Fatah putra raja Brawijaya Majapahit (tahun 1462 sebagai Adipati Bintoro, tahun 1465 membangun Masjid Demak dan menjadi raja tahun 1478) murid Sunan Ampel,menggantikan Ahmad Jumadil Kubro yang wafat.
2. Fathullah Khan, putra Sunan Gunung Jati, menggantikan Al Maghrobi

Dewan Wali Sanga V:
1 Raden Umar Sahid atau Sunan Muria, putra Sunan Kalijaga,
2 Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Lemah Abang, awalnya termasuk anggota para wali, tetapi karena lama-lama ajarannya di anggap menyimpang dari syariat agama islam, maka ia mendapat hukuman dari wali yang lain
3 Sunan Tembayat atau Adipati Pandanaran menggantikan Syakh Siti Jenar yang wafat.

• Sunan Ngundung / Maulana Usman Haji ayah Sunan Kudus, makamnya di Trowulan Mojokerto
• Sayyid Ibrahim / Ibrahim As-Samakhandi putra Maulana Ahmad Jumadil Kubro ayah Sunan Ampel, makamnya di Tuban

RATIB

Makna Ratib :
Perkataan Ratib mempunyai banyak arti. Ratib yang dimaksudkan di sini berasal dari perkataan ( Rattaba ) mengatur atau menyusun. “Ratib adalah rangkaian dzikir secara tertib yang komposisinya telah disusun dari berbagai ayat Al-Quran dan kalimat-kalimat dzikir yang muktabar dari Rasulullah SAW”.
Istilah Ratib digunakan kebanyakkannya di negeri Hadramaut dalam menyebut dzikir-dzikir yang biasanya pendek dengan bilangan dzikir yang sedikit ( 3, 7, 10, 11 & 40 X ), sering diamalkan dan dibaca pada waktu-waktu yang tertentu yaitu sekali pada waktu pagi dan sekali pada waktu malam.
Keutamaan Ratib :                                                                     
Sebagian ulama ahli salaf, antara keutamaan ratib ini bagi mereka yang istiqamah (terus-menerus/teguh pendirian) mengamalkannya, Insya-Allah dipanjangkan umurnya, mendapat Husnul-Khatimah, dijaga segala kepunyaannya di laut dan di bumi dan senantiasa berada dalam perlindungan Allah.
Bagi mereka yang mempunyai hajat yang tertentu, membaca ratib pada suatu tempat yang kosong dengan berwudlu, mengadap kiblat dan berniat apa kehendaknya, Insya-Allah dimustajabkan Allah. Para salaf berkata ia amat mujarrab dalam menyampaikan segala permintaan jika dibacanya sebanyak 41 kali
FADHILAH  RATIB  AL –AYDRUS”
Ratib Al-Aydrus disusun oleh Al- Habib  Al- Imam Abdullah Bin Abu bakar Al-Aydrus Al-Akbar  ( lahir Tarim –Hadramaut-Yaman,10 Dzulhijah 811 – 865 H / 1391 – 1445 M ), Imam para Wali dan orang-orang Shalih.
 “Gelar Alaydrus sendiri bermakna “ Ketua Orang-Orang Tasawuf “
Ratib Al-Aydrus bertujuan untuk memohon penguatan tauhid dan keimanan para pembacanya, sekaligus juga kemudahan rejeki.
Didalam khazanah kaum muslimin, dikenal Ratib Al-Aydrus, Ratib Al-Haddad, Ratib Al-Athas dan ada kemungkinan akan bertambah sesuai dengan perkembangan zamannya. Sedang sebutan Ratib Al-Aydrus sebagai “Syamsi Syumus”, karena   keagungannya dan mengawali ratib-ratib yang lain sebelum adanya Ratib Al-Haddad dan Ratib Al-Aththas.
NASEHAT-NASEHAT BELIAU DALAM KITAB “ALKIBRATUL  AHMAR”:
·         Peraslah jasadmu dengan mujahadah (memerangi hawa nafsu dunia) sehingga keluar minyak kemurnian
·         Barang siapa yang menginginkan keridhaan Allah hendaklah mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena keajaiban dan kelembutan dari Allah SWT pada saat di akhir malam.
·         Siapapun dengan kesungguhan hati mendekatkan diri pada Allah maka terbukalah khazanah Allah
·         Diantara waktu yang bernilai tinggi merupakan pembuka perbendaharaan Ilahi diantara Dzuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya dan tengah malam terkakhir sampai ba’da Sholat Shubuh.
·         Sumber segala kebaikan dan pangkal segala kedudukan dan keberkahan akan dicapai melalui ingat mati, kubur dan bangkai
·         Keridhaan Allah dan RasulNya terletak pada muthalaah (mempelajari dan memperdalam) Al-Qur’an dan hadits serta kitab-kitab agama Islam.
·         Meninggalkan dan menjauhi ghibah (menggunjingkan orang) adalah raja atas dirinnya, menjauhi namimah (mengadu domba) adalah ratu dirinya, baik sangka kepada orang lain adalah wilayah dirinya, duduk bercampur dalam majlis dzikir adalah keterbukaan hatinya.
·         Jangan kau abaikan shadaqah setiap hari sekalipun sekecil atom, perbanyaklah membaca Al-Qur’an setiap siang dan malam hari.
·         Ciri-ciri orang yang berbahagia adalah mendapatkan taufik dalam hidupnya banyak ilmu dan amal serta baik perangai tingkah lakunya.
·         Orang yang berakal ialah orang yang diam (tidak bicara sembarangan)
·         Orang yang takut kepada Allah ialah orang yang banyak sedih (merasa banyak bersalah)
·         Orang yang raja’ (mengharap ridha Allah) ialah orang yang melakukan ibadah
·         Orang mulia ialah orang yang bersungguh-sungguh dalam kebaikan dan ridha Allah SWT yang didambakan dalam hidupnya.
·         Orang yang bertaubat ialah yang banyak menyesali perbuatannya, menjauhi pendengarannya dari yang tidak bermanfaat dan mendekatkan diri kepada Allah terutama di masa sekarang.
“FADHILAH   RATIB   AL – ATHTHAS”
Ratib Al-Aththas disusun oleh. Al-Habib Umar bin Abdul Rahman Al-Attas           ( lahir Lisk-Inat-Hadramaut-Yaman,992H/ 1572M, wafat 23 Rabiulakhir 1072H/1652M ) Diberi nama “Azizul Manal Wa Fathu Babil Wishal” Anugerah nan Agung dan Pembuka Pintu Tujuan.
Antara lain kelebihan ratib ini, ia menjaga rumahnya dan 40 rumah-rumah tetangganya dari kebakaran, kecurian dan terkena sihir. As-Syeikh Ali Baras berkata: “Apabila dibaca dalam suatu kampung atau suatu tempat, ia mengamankan ahlinya seperti dijaga oleh 70 pahlawan yang bekuda. Ratib ini mengandung rahsia-rahsia yang bermanfaat. Mereka yang tetap mengamalkannya akan diampunkan Allah dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di laut.” Bagi mereka yang terkena sihir dan membaca ratib, Insya-Allah diselamatkan Allah dengan berkat Asma’ Allah, ayat-ayat al-Qur’an dan amalan Nabi Muhammad SAW.
Al-Habib Husein bin Abdullah bin Muhammad bin Mohsen bin Husein Al-Aththas berkata: “Mereka yang mengamalkan ratib dan terpatuk ular niscaya tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya. Bagi orang yang takut niscaya akan selamat dari segala yang ditakuti. Pernah ada seorang yang diserang oleh 15 orang pencuri dan dia selamat.”
Pernah datang satu kumpulan mengadu akan hal mereka yang dikelilingi musuh. Al-Habib Husein menyuruh mereka membaca ratib dan beliau jamin Insya-Allah mereka akan selamat. Ada sebuah kampung yang cukup percaya dengan Habib Umar Al-Aththas dan istiqamah dalam membaca ratibnya. Kecil, besar, tua dan muda setiap malam mereka membaca ratib beramai-ramai dengan suara yang kuat. Kebetulan kampung itu mempunyai musuh yang hendak menyerang mereka. Kumpulan musuh ini menghantar seorang pengintip untuk mencari rahsia tempat mereka supaya dapat diserang. Kebetulan pada waktu si pengintip datang dengan sembunyi-sembunyi mereka sedang membaca ratib dan sampai kepada dzikir. Artinya: Dengan nama Allah, kami beriman kepada Allah dan barang siapa yang beriman kepada Allah tiada takut baginya! Mendengar tiada takut baginya, dan diulangi sampai tiga kali, si pengintip terus menjadi takut dan kembali lalu menceritakan kepada orang-orangnya apa yang dia dengar dan mereka tidak jadi menyerang. Maka selamatlah kampung itu.

Ratib Al-Habib Umar bin Abdurrahman ini mempunyai banyak nama. Antara lain:
Artinya :          Sesuatu yang sukar diperolehi dan kunci bagi pintu penghubung kepada    Allah. Nama inilah yang dipilih oleh Al-Habib Muhammad bin Salem Al-Aththas apabila menyusun Ratib Al-Habib Umar dalam bahasa Arab, Melayu dan Tamil.
Artinya :          Benteng yang kokoh
Artinya :          Belerang yang merah. Satu istilah bagi mentafsirkan sesuatu benda yang amat berharga yang sukar didapati pada sebarang waktu atau tempat.
Artinya :          Saripati segala dzikir.
Artinya :          Magnet rahasia-rahasia bagi mereka yang istiqamah mengamalkannya
Artinya :          Penawar bagi racun yang mujarrab. Menurut kata Al-Habib Husein         Al-Aththas, nama ini dinamakan oleh gurunya Al-Habib Ahmad bin Hasan  menerangkan kelebihan Ratib Al-Habib Umar.
Atinya :           Sumber pencapaian dan kunci pintu penghubung kepada Allah. Nama ini hanya terdapat di dalam kitab Tajul A’ras oleh Al-Habib Ali bin Husein
Ratib Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas kini telah berusia kira-kira 400 tahun. Ratib ini sehingga kini banyak dibaca di negara-negara seperti di Afrika termasuk Darussalam, Mombassa dan Afrika Selatan. Juga di Inggris, Burma (Myanmar), India dan negara-negara Arab. Di Afrika ia disebarkan oleh murid-murid Al-Habib Ahmad bin Hasan seperti Al-Habib Ahmad Masyhur Al-Haddad dan lain-lain. Di India, Kemboja dan Burma oleh Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Aththas. Sehingga sekarang kumpulan-kumpulan ratib Al-Habib Umar atau Zawiyah masih diamalkan di Rangoon dan di beberapa daerah di Burma. Tetapi mereka lebih terkenal di sana dengan Thariqah al-Aththasiyah.
Ratib ini telah lama sampai di Malaya, Singapura, Brunei dan Indonesia. Antara keterangan ratib ini yang diterbitkan dalam bahasa Melayu di Singapura adalah sebuah kitab kecil yang bernama Fathu Rabbin-Nas yang dikarang oleh Al-Habib Husein bin Abdullah bin Muhammad bin Mohsen bin Husein Al-Aththas. Tarikh selesai karangan ini adalah pada pagi Jum’at, 20 Jumadil Awal 1342 (20 Disember 1923). Ia diterbitkan C.H Kizar Muhammad Ain Company dan dicetak oleh Qalam Singapura.
Pada tahun 1939, Al-Habib Muhammad bin Salim Al-Aththas telah menerbitkan sebuah kitab yang bernama Miftahul Imdad yang dicetak di Matbaah Al-Huda di Pulau Penang. Kitab ini mengandung wirid-wirid datuk beliau Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas tetapi terdapat juga ratib Al-habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas di dalamnya.
Pengikut Al-Habib Muhammad bin Salem Al-Aththas, Al-Habib Hasan bin Ahmad Al-Aththas pada suatu masa dahulu telah mencetak Ratib Al-Aththas meneruskan percetakannya Mutaaba’ah Al-Aththas (Al-Aththas Press) yang pejabatnya terletak di Wadi Hasan, Johor Bahru, Malaysia. Percetakan ini di Johor pada kira-kira tahun 1927.
Waktu membaca Ratib Al-Attas :
Disebutkan di dalam kitab al-Qirtas: “Telah menjadi tradisi bagi para sesepuh kami, khususnya tradisi dari Al-Habib Husein bin Umar membaca Ratib Al-Aththas adalah setelah sholat Isya’. Kebiasaan itu dilakukan oleh Habib Husein beserta pengikutnya secara turun-temurun kecuali di bulan Ramadhan. Adapun di bulan Ramadhan bacaan ratib itu dibaca sebelum sholat Isya’. Tetapi bagi yang gemar berdzikir banyak yang membaca ratib al-Aththas ini di waktu pagi dan sore, sebab di antara kalimat-kalimat yang didzikirkan ada dzikir-dzikir yang disunnahkan untuk membacanya di waktu pagi dan di waktu sore seperti tertera di dalam hadits-hadits Nabi SAW.
Dikatakan oleh Habib Ali bin Hasan Al-Aththas di dalam kitab al-Qirtas bahwa Habib Umar suka membaca ratibnya secara rahsia tanpa suara, sebab beliau menginginkan bacaan ratibnya itu lebih berkesan di hati yang membacanya dan lebih ikhlas karena Allah. Hal itu sesuai dengan firman Allah:
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”.(Al A’raf: 205)
 “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”. ( Luqman 19 )

Jika ratib al-Aththas ini dibaca secara berkelompok, maka hendaklah dibaca dengan suara yang tiada terlalu keras dan tiada terlalu pelan, sesuai dengan firman Allah:
“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu dan janganlah pula selalu merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara keduanya”. (Al-Isra’: 110)
Ratib Habib Umar yang diberi nama Azizul Manal Wa Fathu Babil Wishal seperti dikatakan oleh Habib Ali bin Hasan Al-Aththas di dalam kitab al-Qirtas bagian kedua juz pertama: “Ratib Habib Umar merupakan hadiah yang tertinggi dari Allah bagi umat Islam lewat Habib Umar.” Peninggalan beliau yang paling mahal hanyalah ratib yang beliau tinggalkan bagi umat ini. Ratib Habib Umar merupakan wirid yang banyak mendatangkan faedah bagi yang membacanya setiap waktu, terutama bagi yang sedang menghadapi kesulitan. Al-Habib Isa bin Muhammad Al-Habsyi mengatakan bahwa Habib Umar banyak sekali menyebutkan akan keutamaan ratib ini. Pernah disebutkan ketika ada sekelompok orang datang kepada Habib Umar mengeluh kesulitan pencarian dan lamanya musim kemarau yang menimpa kepada mereka selama beberapa waktu. Mereka diperintah membaca Ratib beliau dan dzikir Tauhid. Setelah mereka mengerjakannya, maka dengan berkat bacaan itu, Allah memberi keluasan hidup bagi mereka.
Menurut Syaikh Ali Baras, jika Ratib Habib Umar dibacakan bagi penduduk suatu desa atau bagi suatu keluarga, maka desa itu atau keluarga itu akan dipelihara oleh Allah dengan peliharaan yang amat ketat. Selanjutnya Syaikh Ali berkata: “Pernah aku diceritakan oleh sebagian orang bahwa ketika mereka takut menghadapi perampok yang akan menjarah rumah mereka, maka mereka membaca Ratib Habib Umar sehingga rumah mereka tidak sampai dijarah oleh kaum perampok itu meskipun jumlah mereka sebanyak 15 orang”.
Dipetik dari: Kelebihan Ratib: Uraian Ratib Al-Habib Umar bin Abdul Rahman Al-Aththas, oleh Sayyid Hassan bin Muhammad Al-Aththas, Masjid Ba’alwi Singapura, terbitan Hamid Offset Service





“FADHILAH    RATIB    AL- HADDAD”
Ratib Al-Haddad ini mengambil nama penyusunnya, yaitu Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad, ( lahir Sabiir – Tarim- Hadramaut-Yaman 1044 H ).Seorang pembaru Islam (mujaddid) yang terkenal doa-doa dan dzikir-dzikir karangan beliau, Ratib Al-Haddadlah yang paling terkenal dan masyhur. Ratib yang bergelar “Al-Ratib Al-Syahir” Ratib Yang Termasyhur disusun berdasarkan inspirasi, pada malam Lailatul Qadar 27 Ramadhan 1071 Hijriyah / 26 Mei 1661).
Ratib ini disusun untuk memenuhi permintaan salah seorang murid beliau, ‘Amir dari keluarga Bani Sa’d yang tinggal di sebuah kampung di Shibam, Hadhramaut. Tujuan ‘Amir membuat permintaan tersebut ialah bagi mengadakan suatu wirid dan dzikir untuk amalan penduduk kampungnya agar mereka dapat mempertahan dan menyelamatkan diri daripada ajaran sesat yang sedang melanda Hadhramaut ketika itu.
Pertama kalinya Ratib ini dibaca di kampung ‘Amir sendiri, yaitu di kota Shibam setelah mendapat izin dan ijazah daripada Al-Imam Abdullah Al-Haddad sendiri. Selepas itu Ratib ini dibaca di Masjid Al-Imam Al-Haddad di Al-Hawi, Tarim dalam tahun 1072 Hijriah bersamaan tahun 1662 Masehi. Pada kebiasaannya ratib ini dibaca berjamaah bersama doa dan nafalnya, setelah sholat Isya’. Pada bulan Ramadhan ia dibaca sebelum sholat Isya’ untuk menghindari kesempitan waktu untuk menunaikan solat Tarawih. Pengikut Imam Al-Haddad di kawasan-kawasan di mana Ratib al-Haddad ini diamalkan, dengan izin Allah kawasan-kawasan tersebut selamat dipertahankan daripada pengaruh sesat tersebut.
Apabila Imam Al-Haddad berangkat menunaikan ibadah Haji, Ratib Al-Haddad pun mulai dibaca di Makkah dan Madinah. Sehingga hari ini Ratib dibaca setiap malam di Bab al-Safa di Makkah dan Bab al-Rahmah di Madinah. Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi pernah menyatakan bahwa siapa yang membaca Ratib Al-Haddad dengan penuh keyakinan dan iman dengan terus membaca “ La ilaha illallah” hingga seratus kali (walaupun pada kebiasaannya dibaca lima puluh kali), ia mungkin dikurniakan dengan pengalaman yang di luar dugaannya.
Beberapa kebiasaan bisa didapati di dalam beberapa cetakan ratib Haddad ini terutama selepas Fatihah yang terakhir. Beberapa doa ditambah oleh pembacanya. Al-Habib Ahmad Masyhur bin Taha Al-Haddad memberi ijazah untuk membaca ratib ini dan menyarankannya dibaca pada waktu yang lain daripada yang tersebut di atas juga waktu dalam kesulitan. Mudah-mudahan siapa yang membaca ratib ini diselamatkan Allah daripada bahaya dan kesusahan. Amiin.
Ketahuilah bahwa setiap ayat, doa, dan nama Allah yang disebutkan di dalam ratib ini telah dipetik daripada Al-Qur’an dan hadits Rasulullah S.A.W. Terjemahan yang dibuat di dalam ratib ini, adalah secara ringkas. Bilangan bacaan setiap doa dibuat sebanyak tiga kali, karana ia adalah bilangan ganjil (witir). Ini ialah berdasarkan saran Imam Al-Haddad sendiri. Beliau menyusun dzikir-dzikir yang pendek yang dibaca berulang kali, dan dengan itu memudahkan pembacanya. Dzikir yang pendek ini, jika diamalkan selalu secara istiqamah, adalah lebih baik daripada dzikir panjang yang dibuat secara berkala Ratib ini berbeda daripada ratib-ratib yang lain susunan Imam Al-Haddad karana ratib Al-Haddad ini disusun untuk dibaca lazimnya oleh kumpulan atau jama’ah. Semoga usaha kami ini diberkahi Allah.
Kelebihan Ratib Al-Haddad :

Cerita-cerita yang dikumpulkan mengenai kelebihan RatibAl-Haddad banyak tercatat dalam buku Syarah Ratib Al-Haddad, antaranya;Telah berkata Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Jufri yang bertempat tinggal di Seiwun (Hadhramaut): “Pada suatu masa kami serombongan sedang menuju ke Makkah untuk menunaikan haji, bahtera kami kandas tidak dapat meneruskan perjalanannya karana tidak ada angin yang mendorongnya. Maka kami berlabuh di sebuah pantai, lalu kami isikan gerbah-gerbah (tempat isi air terbuat dari kulit) kami dengan air, dan kami pun berangkat berjalan kaki siang dan malam, kerana kami bimbang akan ketinggalan haji. Di suatu perhentian, kami coba meminum air dalam gerbah itu dan kami dapati airnya payau dan asin, lalu kami buangkan air itu. Kami duduk tidak tahu apa yang mesti hendak dibuat.
Maka saya anjurkan rombongan kami itu untuk membaca ratib Haddad ini, mudah-mudahan Allah akan memberikan kelapangan dari perkara yang kami hadapi itu. Belum sempat kami habis membacanya, tiba-tiba kami lihat dari kejauhan sekumpulan orang yang sedang menunggang unta menuju ke tempat kami, kami bergembira sekali. Tetapi bila mereka mendekati kami, kami dapati mereka itu perampok-perampok yang kerap merampas harta-benda orang yang lalu-lalang di situ.
Namun rupanya Allah Ta’ala telah melembutkan hati mereka bila mereka dapati kami terdampar disitu, lalu mereka memberi kami minum dan mengajak kami menunggang unta mereka untuk disampaikan kami ke tempat sekumpulan kaum syarif tanpa diganggu kami sama sekali, dan dari situ kami pun berangkat lagi menuju ke Makkah untuk menunaikan haji, syukurlah atas karunia Allah karena berkat membaca ratib ini.

Cerita ini pula diberitakan oleh seorang yang mencintai keturunan Sayyid, katanya: “Sekali peristiwa saya berangkat dari negeri Ahsa’i menuju ke Hufuf. Di perjalanan itu saya terlihat kaum Badwi yang biasanya merampas hak orang yang melintasi perjalanan itu. Saya pun berhenti dan duduk, di mana tempat itu pula saya gariskan tanahnya mengelilingiku dan saya duduk di tengah-tengahnya membaca ratib ini. Dengan kuasa Allah mereka telah berlalu di hadapanku seperti orang yang tidak melihatku, sedang aku memandang mereka.”
Begitu juga pernah terjadi semacam itu kepada seorang alim yang mulia, namanya Hasan bin Harun ketika dia keluar bersama-sama teman-temannya dari negerinya di sudut Oman menuju ke Hadhramaut. Di perjalanan mereka berpapasan dengan gerombolan perampok, maka dia menyuruh orang-orang yang bersamanya membaca ratib ini. Alhamdulillah, gerombolan perampok itu tidak mengapa-apakan siapapun, malah mereka berlalu dengan tidak mengganggu.

Apa yang diberitakan oleh seorang Arif Billah Abdul Wahid bin Subait Az-Zarafi, katanya: Ada seorang penguasa yang ganas yang dikenal dengan nama Tahmas yang juga dikenal dengan nama Nadir Syah. Tahmas ini adalah seorang penguasa ajam yang telah menguasai banyak dari negeri-negeri di sekitarannya. Dia telah menyediakan tentaranya untuk memerangi negeri Aughan.Sultan Aughan yang bernama Sulaiman mengutus orang kepada Imam Habib Abdullah Haddad memberitahunya, bahwa Tahmas sedang menyiapkan tentara untuk menyerangnya. Maka Habib Abdullah Haddad mengirim ratib ini dan menyuruh Sultan Sulaiman dan rakyatnya membacanya. Sultan Sulaiman pun mengamalkan bacaan ratib ini dan memerintahkan tentaranya dan sekalian rakyatnya untuk membaca ratib ini dengan bertitah: “Kita tidak akan dapat dikuasai Tahmas karena kita ada benteng yang kuat, yaitu Ratib Haddad ini.” Benarlah apa yang dikatakan Sultan Sulaiman itu, bahwa negerinya terlepas dari penyerangan Tahmas dan selamat dari angkara penguasa yang ganas itu dengan sebab berkat Ratib Haddad ini.

Saudara penulis Syarah Ratib Al-Haddad ini yang bernama Abdullah bin Ahmad juga pernah mengalami peristiwa yang sama, yaitu ketika dia berangkat dari negeri Syiher menuju ke Bandar Syugrah dengan kapal, tiba-tiba angin berhenti tiada bertiup lagi, lalu kapal itu pun kandas tidak bergerak lagi. Agak lama kami menunggu namun tiada berhasil juga. Maka saya mengajak rekan-rekan membaca ratib ini , maka tidak berapa lama datang angin membawa kapal kami ke tujuannya dengan selamat dengan berkat membaca ratib ini.

Suatu pengalaman lagi dari Sayyid Awadh Barakat Asy-Syathiri Ba’alawi ketika dia belayar dengan kapal, lalu kapal itu telah sesat jalan sehingga membawanya kandas di pinggir sebuah batu karang. Ketika itu angin juga berhenti tidak dapat menggerakkan kapal itu keluar dari bahayanya. Kami sekalian merasa bimbang, lalu kami membaca ratib ini dengan niat Allah akan menyelamatkan kami. Maka dengan kuasa Allah datanglah angin dan menarik kami keluar dari tempat itu menuju ke tempat tujuan kami.  Maka karena itu saya amalkan membaca ratib ini. Pada suatu malam saya tertidur sebelum membacanya, lalu saya bermimpi Habib Abdullah Haddad datang mengingatkanku supaya membaca Ratib ini, dan saya pun tersadar dari tidur dan terus membaca Ratib Haddad itu.

Di antaranya lagi apa yang diceritakan oleh Syaikh Allamah Sufi murid Ahmad Asy-Syajjar, yaitu Muhammad bin Rumi Al-Hijazi, dia berkata:
“Saya bermimpi seolah-olah saya berada di hadapan Habib Abdullah Haddad, penyusun ratib ini. Tiba-tiba datang seorang lelaki memohon sesuatu daripada Habib Abdullah Haddad, maka dia telah memberiku semacam rantai dan sayapun memberikannya kepada orang itu. Pada esok harinya, datang kepadaku seorang lelaki dan meminta daripadaku ijazah (kebenaran guru) untuk membaca Ratib Haddad ini, sebagaimana yang diijazahkan kepadaku oleh guruku Ahmad Asy-Syajjar. Aku pun memberitahu orang itu tentang mimpiku semalam, yakni ketika saya berada di majlis Habib Abdullah Haddad, lalu ada seorang yang datang kepadanya. Kalau begitu, kataku, engkaulah orang itu.”
Dari kebiasaan Syaikh Al-Hijazi ini, dia selalu membaca Ratib Haddad ketika saat ketakutan baik di siang hari maupun malamnya, dan memang jika dapat dibaca pada kedua-dua masa itulah yang paling utama, sebagaimana yang dipesan oleh penyusun ratib ini sendiri.
Ada seorang dari kota Quds (Syam) sesudah dihayatinya sendiri tentang banyak kelebihan membaca Ratib ini, dia lalu membuat suatu ruang di sudut rumahnya yang dinamakan Tempat Baca Ratib, di mana dikumpulkan orang untuk mengamalkan bacaan ratib ini di situ pada waktu siang dan malam.
Di antaranya lagi, apa yang diberitakan oleh Sayyid Ali bin Hassan, penduduk Mirbath, katanya: “Sekali peristiwa aku tertidur sebelum aku membaca Ratib, aku lalu bermimpi datang kepadaku seorang Malaikat mengatakan kepadaku: “Setiap malam kami para Malaikat berkhidmat buatmu begini dan begitu dari bermacam-macam kebaikan, tetapi pada malam ini kami tidak membuat apa-apa pun karena engkau tidak membaca Ratib. Aku terus terjaga dari tidur lalu membaca Ratib Haddad itu dengan serta-merta.
Di antara yang diberitakan lagi, bahwa seorang pecinta kaum Sayyid, Muhammad bin Ibrahim bin Muhammad Mughairiban yang tinggal di negeri Shai’ar, dia bercerita: “Dari adat kebiasaan Sidi Habib Zainul Abidin bin Ali bin Sidi Abdullah Haddad yang selalu aku berkhidmat kepadanya tidak pernah sekalipun meninggalkan bacaan ratib ini. Tiba-tiba suatu malam kami tertidur pada awal waktu Isya, kami tiada membaca ratib dan tiada bersembahyang Isya, semua orang termasuk Sidi Habib Zainul Abidin. Kami tiada sadarkan diri melainkan di waktu pagi, di mana kami dapati sebagian rumah kami terbakar. Kini tahulah kami bahwa semua itu berlaku karena tiada membaca Ratib ini. Sebab itu kemudiannya kami tidak pernah meninggalkan bacaannya lagi, dan apabila sudah membacanya kami merasa tenteram, tiada sesuatupun yang akan membahayakan kami, dan kami tiada bimbang lagi terhadap rumah kami, meskipun ia terbuat dari dedaunan korma, dan bila kami tiada membacanya, hati kami tidak tenteram dan selalu kebimbangan.”
Saya rasa cukup dengan beberapa cerita yang saya sampaikan di sini mengenai kelebihan ratib ini dan anda sendiri dapat meneliti apa yang saya tulis disini.

Sidi Habib Muhammad bin Zain bin Semait sendiri pernah mengatakan dalam bukunya Ghayatul Qasd Wal Murad, bahwa ruh Sayyidina penyusun ratib ini akan hadir apabila dibaca ratib ini, dan di sana ada lagi rahasia-rahasia kebatinan yang lain yang dapat dicapai ketika membacanya dan ini adalah mujarab dan benar-benar mujarab, tiada perlu diragukan lagi.

Berkata Habib Alwi bin Ahmad, penulis Syarah Ratib Al-Haddad:
 “Siapa yang melarang orang membaca Ratib ini dan juga wirid-wirid para shalihin, niscaya dia akan ditimpa bencana yang berat daripada Allah Ta’ala, dan hal ini pernah berlaku dan bukan omong kosong.”

Berkata Sidi Habib Muhammad bin Zain bin Semait Ba’alawi di dalam kitabnya Ghayatul Qasd Wal Murad: Telah berkata Sayyidina Habib Abdullah Haddad:
 “Siapa yang menentang atau membangkang orang yang membaca ratib kami ini sama ada secara terang-terangan atau disembunyikan pembangkangannya itu akan mendapat bencana seperti yang ditimpa ke atas orang-orang yang membelakangi dzikir dan wirid atau yang lalai hati mereka dari berdzikir kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman :
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka baginya akan ditakdirkan hidup yang sempit.” ( Thaha: 124 )
Allah berfirman lagi :
“Dan barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Pemurah, Kami adakan baginya syaitan yang diambilnya menjadi teman.” ( Az-Zukhruf: 36 )
Allah berfirman lagi :
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukanNya ke dalam azab yang sangat berat.” ( Al-Jin: 17)
Apa lagi yang hendak diterangkan mengenai ratib ini untuk mendorong anda supaya melazimkan diri mengamalkan bacaannya setiap hari, sekurang-kurangnya sehari setiap malam, mudah-mudahan anda akan terbuka hati untuk melakukannya dan mendapat faedah daripada amalan ini.
Dipetik dari: Syarah Ratib Haddad: Analisa dan Komentar – karangan Syed Ahmad Semait, terbitan Pustaka Nasional Pte. Ltd.

KEMATIAN

Lukmanul Hakim merupakan lelaki sholeh yang banyak menyampaikan nasehat bijak kepada putranya. Ia bukan seorang Nabi atau Rasul Allah ta’aala. Sedemikian mulianya beliau sehingga namanya diabadikan menjadi nama salah satu surah di dalam Al-Qur’an. Di antara nasehatnya yang tidak termaktub di dalam Al-Qur’an ialah ucapannya kepada putranya sebagai berikut:
“Berbaktilah untuk duniamu sesuai jatah waktu engkau tinggal di dalamnya. Dan berbaktilah untuk akhiratmu sesuai jatah waktu engkau tinggal di dalamnya.”
Subhanallah…! Sebuah nasihat yang sungguh mencerminkan kedalaman perenungan Lukmanul Hakim akan hakekat perbandingan kehidupan di dunia dengan akhirat. Ia sangat memahami betapa jauh lebih bermaknanya kehidupan di akhirat daripada kehidupan di dunia. Dan betapa fananya dunia ini dibandingkan kekalnya alam akhirat kelak..!
Coba kita renungkan. Berapa lama jatah waktu hidup kita di dunia? Paling-paling hanya 60-an atau 70-an tahun. Kalau bisa lebih daripada itu tentu sudah sangat istimewa. Seorang yang mencapai usia 100 tahun sungguh sudah sangat luar biasa..! Sehingga Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengisyaratkan sebagai berikut:
“Umur ummatku antara enampuluh hingga tujuhpuluh tahun, dan sedikit di antara mereka yang mencapai (tujuhpuluh tahun) itu.” (HR Tirmidzi 3473)
Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam wafat pada usia 63 tahun hijriyah. Demikian pula dengan kedua sahabat utamanya Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Keduanya wafat pada usia 63 tahun hijriyah. Ini semata taqdir Allah ta’aala, bukan suatu kebetulan, yang tentunya mengandung rahasia dan hikmah ilahi.
Dan berapa lama jatah hidup seseorang di akhirat? Menurut Al-Qur’an manusia bakal hidup kekal selamanya di akhirat. Dalam Al-Qur’an disebut dengan istilah:
“Kekal selamanya di dalamnya.” Bahkan di dalam hadits kita jumpai keterangan mengenai hal ini dengan ungkapan yang lebih membangkitkan bulu roma. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan bahwa ketika nanti seluruh penghuni surga telah dimasukkan ke dalam surga sementara penghuni neraka telah masuk neraka semuanya, maka Allah ta’aala akan tampilkan kematian dalam wujud seekor kambing yang ditempatkan di antara surga dan neraka. Selanjutnya Allah ta’aala perintahkan malaikat untuk menyembelih ”kematian” sambil ditonton oleh segenap ahli neraka dan ahli surga. Sesudah itu Allah ta’aala akan berfirman kepada ahli surga: “Hai penghuni surga kekallah tidak ada lagi kematian…” Selanjutnya Allah ta’aala berfirman kepada para ahli neraka: ”Hai penghuni neraka kekallah tidak ada lagi kematian…”
Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Kematian didatangkan pada hari kiamat berupa seekor kambing hitam…” (HR Muslim 5087)
“Bila penghuni surga sudah masuk surga dan penghuni neraka masuk neraka, datanglah kematian berdiri di antara surga dan neraka, kemudian disembelih. Lalu terdengar seruan “Hai penghuni surga kekallah tidak ada lagi kematian… Hai penghuni neraka kekallah tidak ada lagi kematian”, maka bertambahlah kegembiraan penghuni surga dan bertambahlah kesedihan penghuni neraka.” (HR Ahmad 5721)
Saudaraku, bila Allah ta’aala taqdirkan kita hidup di akhirat dalam kesenangan abadi di dalam surga tentulah ini suatu kenikmatan yang tiada tara dan bandingan. Sebaliknya, barangsiapa yang ditaqdirkan Allah ta’aala hidup di akhirat di dalam penderitaan abadi siksaan neraka tentulah ini suatu kerugian yang sungguh nyata dan mengerikan…! Na’udzubillahi min dzaalika…!
Pantas bilamana Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan betapa tiada berartinya kesenangan dunia yang penuh kepalsuan jika dibandingkan dengan kesenangan surga yang hakiki, bukan khayalan atau virtual atau sekedar dongeng orang-orang terdahulu. Begitu pula tiada berartinya kesulitan di dunia yang penuh tipuan jika dibandingkan dengan kesulitan dan penderitaan sejati neraka yang berkepanjangan tiada ujung akhir, bukan khayalan atau virtual atau sekedar dongeng orang-orang terdahulu…. Na’udzubillahi min dzaalika…!
“Pada hari berbangkit didatangkan orang yang paling ni’mat hidupnya sewaktu di dunia dari ahli neraka. Maka ia dicelupkan ke dalam neraka sejenak. Kemudian ditanya:”Hai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kesenangan? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan?” Ia menjawab: “Tidak, demi Allah wahai Rabb.” Lalu didatangkanlah orang yang paling sengsara hidupnya sewaktu di dunia dari ahli surga. Maka ia dicelupkan ke dalam surga sejenak. Kemudian ditanya:”Hai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kesengsaraan? Apakah kamu pernah merasakan penderitaan?” Ia menjawab: “Tidak, demi Allah wahai Rabb. Aku tdk pernah mengalami kesengsaraan dan tidak pula melihat penderitaan” (HR Muslim 5018)
Maka saudaraku, pantaskah kita mempertaruhkan kehidupan kita yang hakiki dan abadi di akhirat nanti demi meraih kesenangan dunia yang fana dan sesungguhnya penuh dengan tipuan yang sangat memperdayakan….? Saudaraku, jadilah orang yang ”cerdas” versi Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Bukan orang yang cerdas berdasarkan pandangan para pencinta dunia yang sejatinya sangat bodoh dan tidak sabar…!
“Orang yang paling cerdas ialah barangsiapa yang menghitung-hitung/evaluasi/introspeksi (‘amal-perbuatan) dirinya dan ber’amal untuk kehidupan setelah kematian.” (At-Tirmidzi 8/499
Majelis Taklim "THARIQUL ISTIQAMAH"0 komentar

PERSAHABATAN

Persahabatan hakiki merupakan kata-kata indah untuk didengarkan dan tentunya setiap orang mendambakan realitas hal tersebut. Persahabatan itu sendiri berarti perhubungan selaku sahabat. Sahabat adalah teman disegala suasana. Asik diajak berdiskusi, juga penuh kesabaran mendengarkan keluh-kesah. Apalagi saat senang memang enak dijalani bersama. Begitu pun saat susah, terasa ringan dengan berbagi cerita terhadap sahabat.

Menjalin ikatan persahabatan merupakan aktivitas yang fithriyyah bagi kita, karena manusia memang ditakdirkan Allah menghuni bumi ini sebagai makhluk sosial. Dari aktivitas tersebut, kita bisa belajar mengenai kehidupan lebih banyak lagi. Lewatnya, kita bisa bercermin. Melalui cermin persahabatan ini, kita bisa melihat perbedaan-perbedaan sifat/karakter manusia dan pola kehidupannya. Dari sini, diharapkan kedewasaan dan kesabaran kita menjadi tertanam secara kokoh.

Untuk mencapai makom persahabatan hakiki, Islam jauh-jauh hari telah memberi petunjuk untuk mencapai persahabatan hakiki itu. Yakni persahabatan yang dibalut dengan sibghah Allah. Tepatnya, bersahabat dalam pancaran Nur Islam ini, ternyata tidak hanya berupa jalinan dua orang insan yang seiman dan seaqidah (baca: ibarat satu tubuh). Tetapi, juga otomatis dan tidak bisa tidak, dalam bahasa Aa Gyim adalah mesti ada “pihak ketiga” yang ikut mengikatkan diri serta kian memperteguh ikatan dianatara keduanya, yaitu Allah Dzat Yang Maha memiliki rasa kasih dan sayang. Singkatnya, persahabatan dalam Islam memang akan selalu melibatkan keberadaan Allah di tengah-tengah kita.

Berikut ini, ada beberapa ruang lingkup jalinan persahabatan yang perlu dirajut dan dibina oleh setiap manusia untuk mencapai predikat persahabatan kakiki.

1. Menjalin Persahabatan dengan Allah SWT.

Persahabatan pertama dan utama yang mesti dijalin oleh setiap manusia adalah persahabatan dengan Allah SWT. Sang pemilik dan pengatur persahabatan setiap makhluk-Nya. Dampaknya, bila Allah telah nyata-nyata melibatkan diri didalamnya, maka konsekuensinya tidak hanya persahabatan itu menjadi indah dan nikmat melebihi saudara sedarah. Tetapi, lebih dari itu, Allah akan selalu siap menurunkan pertolongan-Nya tatkala kesulitan menghadang atau setiap waktu kita memintanya.

Jaminan hal tersebut, terungkap dalam QS. Al Baqarah: 186, yang artinya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Dari sini, terungkap jelas bahwa untuk menjalin persahabatan manusia dengan Allah itu, maka syaratnya tidak lain adalah beriman dan bertaqwa kepada Allah. Lagian, saling mencintai (baca: persahabatan) karena Allah termasuk ibadah yang paling utama, dan ia adalah buah dari akhlak yang baik. Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya yang terdekat dariku di antara kamu duduknya adalah yang terbaik akhlaknya di antara kamu dan merendahkan diri, yang mencintai dan dicintai.”

Untuk itu, pantas saja Allah mengumpamakan terhadap persahabtan yang kokoh kuat dalam sibghah Allah, dalam cahaya iman dan Islam, yaitu sebagai “Seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).” Sungguh indah perumpamaan Allah ini.

Jadi, persahabatan dengan Allah ini adalah sesuatu yang harus kita pilih terlebih dahulu, sebelum menjalin persahabatan-persahabatan lainnya. Dan ini, tentu sebagai bukti penghambaan kita kepada-Nya.

2. Menjalin Persahabatan dengan Pribadinya Sendiri.

Berawal dari mantapnya jalinan persahabatan dengan Allah, maka langkah selanjutnya adalah menjalin persahabatan dengan pribadinya sendiri, sebelum bentuk persahabatan dengan lainnya. Bagaimana caranya?

Bersahabat dengan pribadinya sendiri berarti kita memenuhi dan memahami setiap fitrah diri sebagai manusia yang sesuai dengan ketentuan-Nya. Yakni sebagai khalifah di muka bumi ini. Lagian, dalam pandangan Islam, setiap pribadi (manusia), lebih dahulu harus memperhatikan serta meneliti atas kejadian diri pribadinya sendiri. Misalnya, dari apa dia dijadikan dan apa tujuan serta ke mana ia akan kembali (baca: QS. 86: 5-7).

Berawal dari pengenalan (persahabatan) dengan diri sendiri ini, tentu sudah seharusnya tiap pribadi itu mampu memformulasikan persahabatan lainnya yang sesuai ridha-Nya. Sehingga melalui kesuksesan membangun persahabatan ini, akan mengantarkan kepada kesusksesan persahabatan lainnya di dunia.

Dalam hal ini, Asy-Syafi’i ra. memberi tuntunan bahwa tidak seorang muslim pun yang taat kepada Allah tanpa mendurhakai-Nya. Maka barangsiapa yang ketaatannya lebih menonjol daripada maksiatnya, ia pun adil. Artinya, bila orang ini adil dalam hak Allah SWT, maka dalam hakmu ia lebih utama baginya. Maka jadilah engkau termasuk orang yang menampakkan kebagusan dan menutupi keburukan, karena Allah SWT disifatkan demikian dalam doa. “Ya Tuhan yang menampakkan kebagusan dan menutupi keburukan.”

Pendeknya yang diridhai di sisi Allah adalah orang yang berakhlak dengan akhlak-Nya dan Dialah yang menutupi kejelekan dan mengampuni dosa-dosa manusia itu. Dalam konteks ini, iman seseorang tidak sempurna hingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya.

Hal itu berarti, pada tataran jalinan persahabatan dengan siapa dan dalam bentuk apa pun, tentu harus terlebih dahulu membangun terhadap kencintaan pada dirinya sendiri sesuai harapan-Nya. Baru kemudian kemulyaan akhlak dan iman diri manusia itu, dijalinkan kepada persahabatan terhadap pihak lainnya.

3. Menjalin Persahabatan dengan Sesama Manusia.


Persahabatan dengan sesama manusia ini merupakan aktualisasi dan penjabaran dari buah bentuk persahabatan sebelumnya. Aktivitas persahabatan yang ketiga ini, akan menentukan catatan-catatan amaliah di dunia. Apakah baik-buruk, bahagia-sedih, sukses-gagal, dan sejenisnya.

Untuk itu, tidak setiap orang patut dijadikan sahabat kita. Nabi Saw. bersabda, “Manusia itu mengikuti kebiasaan temannya, maka hendaklah seseorang dari kamu melihat siapa yang akan dijadikan temannya.”

Dalam hal ini, Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menyebutkan bahwa haruslah dipertimbangkan sejumlah perkara. Yakni, ia harus seorang yang berakal. Berakhlak baik, tidak berambisi atas keduniaan. Adapun akal, ia adalah modal.

Oleh karena itu, kata Al Ghazali bahwa memutus hubungan dengan orang dungu adalah pendekatan dengan Allah. Begitu pula orang fasik tidak ada faedahnya bila berteman dengannya, karena siapa yang takut Allah, ia pun tidak terus menerus melakukan dosa besar, dan siapa yang tidak takut kepada Allah, maka ia pun suka mengganggu orang lain.
Dalam hal ini, Allah berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya.” (QS. Al-Kahfi: 28).

Walau demikian, sesungguhnya setiap mukmin terdapat sifat, cita-cita dan aqidah. Maka seharusnya secara otomatis persahabatan akan tercipta sebagai akibat dari suatu karakter dari keimanan mereka. Allah menyebutkan dalam suatu firma-Nya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara ….” (QS. Al-Hujuraat:10).

Sifat yang lazim dari konsekuensi keimanan itu akan melahirkan ukhuwwah fillah (persaudaraan karena Allah). Dan ini merupakan perangai yang cocok sebagai teman bagi ketaqwaan. Dengan demikian, maka tidak ada persahabatan sejati tanpa adanya iman dan tidak adanya iman tanpa adanya persahabatan.

Pada konteks ini, Al Ustadz Husnie Adham Jarror dalam bukunya Al Ukhuwwah Wal Hubb Fillah menuliskan, jika anda mendapati suatu persaudaraan yang dibelakangnya tidak didukung oleh keimanan maka akan anda dapati bahwa persaudaraan senacam itu tidak akan membawa kemaslahatan dan manfaat yang saling timbal balik. Begitu juga jika anda dapati keimanan (iman) yang tidak didukung oleh persaudaraan maka bisa anda simpulkan bahwa betapa rendah kadar keimanan itu yang bahkan justru mengarahkan kepada keterjerumusan.

Berkait dengan persahabatan karena Allah dengan kasih sayang dan kebaikan, diriwayatkn oleh Ibnu Abbas ra. Bahwa Nabi Saw. bersabda: “Sekuat-kuat iman adalah persaudaraan karena Allah, cinta karena Allah, dan membenci karena Allah.” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas).

Indahnya persahabatan karena Allah ini, telah dicontohkan para sahabat Rasulullah Saw. Kisah ini terjadi ketika Perang Yarmuk, yaitu antara Ikrimah, Suhail bin Amru, dan Harits bin Hisyam. Diwaktu mereka dalam keadaan kritis (karena terluka dalam peperangan) kepada mereka disampaikan minumn, akan tetapi mereka semuanya menolak karena saling ingin mendahulukan saudaranya sehingga akhirnya mereka semua syahid karenanya.

Ceritanya, ketika minum itu ditawarkan kepada salah seorang diantara mereka, ia berkata: “Berikan saja minum itu kepada si fulan …” Sampai akhirnya mereka gugur semua, sedang mereka belum sempat meminumnya. Ketika Ikrimah menerima air tersebut, dia sempat melihat Suhail, kemudian ia berkata: “Berikan saja kepada Suhail dulu.” Ketika Suhail, hendak minum, ia sempat melihat Harist memperhatikannya, kemudian ia berkata: “Berikan saja pada Harits dulu.” Namun belum pun air itu sampai kepada Harits, ia pun keburu gugur.

Sungguh indah dan luar biasa, apabila kita dapat mempraktekkan hakekat dari kisah persahabatan di atas. Bentuk persahabatan antara sesama manusia itu, misalnya bisa dengan kedua orang tua (baca: seperti dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as. saat akan mengorbankan anaknya, Nabi Ismail as.), saudara, teman, suami-istri, dan sejenisnya.

4. Menjalin Persahabatan dengan Manusia yang Telah Meninggal Dunia.

Terjalinnya persahabatan yang baik pada manusia selama hidupnya di dunia (baca: persahabatan dengan sesama manusia), maka akan mengantarkan terjalinya persahabatan yang baik pula terhadap orang yang telah meninggal, nantinya. Dalam arti lain, persahabatan/ hubungan orang yang masih hidup dan telah meninggal itu masih terus berlangsung, walaupun tidak berhubungan secara fisik.

Dari Sofyan, dari seorang yang mendengar dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah bersabda: “Amalan orang yang masih hidup berpengaruh terhadap orang tuanya yang telah meninggal. Jika yang masih hidup berbuat baik maka yang telah mati akan memuji Allah dan merasa gembira. Jika yang masih hidup berbuat jelek maka orang tuanya yang telah meninggal dunia berdoa: Ya Allah, jangan Kau matikan dia sebelum Kau beri hidayah.”

Nabi Saw. bersabda: Di dalam kuburnya, orang yang telah mati merasa terganggu sebagaimana ia merasakannya ketika ia masih hidup.”

“Gangguan macam mana itu,” tanya sahabat.

“Seorang yang telah mati tak bisa melakukan dosa, tidak bisa bertengkar, bermusuhan dan tidak bisa menyakiti tetangga. Hanya saja bila kamu bertengkar dengan seseorang, pastilah orang tersebut akan mencacimu dan mencaci kedua orang tuamu. Saat itulah orang tuamu yang telah meninggal akan terganggu oleh perlakukan buruk itu. Sebaliknya, mereka yang telah mati merasa gembira ketika ia mendapatkan kebaikan yang menjadi hak mereka.”

Di bagian lain, dijelaskan juga dari Abdul Aziz bin Suhaib bahwa ia mendengar hadis dari Anas bin Malik. Lewatlah iring-iringan jenazah yang lain. Mereka menyebut-nyebut kejelekannya. Nabi bersabda, “Pastilah akan mendapatkannya.”

“Apa yang pasti, wahai Rasul?” tanya Umar.

“Yang kalian puji kebaikannya pastilah mendapat sorga. Demikian juga yang kalian sebut kejelekannya pastilah mendapat mereka.” Nabi melanjutkan sabdanya, “Kalian akan menjadi saksi Allah di bumi.”

Di bagian lain, dari Abdul Aswad Addaili: Saat itu aku duduk di dekat Umar. Nabi bersabda: “Seseorang yang mati lantas ada tiga orang bersaksi akan kebaikannya maka pastilah ia mendapat sorga.”

“Kalau cuma dua orang, wahai Rasul?” tanyaku.

“Ya, meskipun cuma dua orang.”

Kami tidak bertanya bila yang menjadi saksi hanya satu orang.

Kalau kita cermati dari beberapa keterangan di atas, terlihat jelas perlunya terjalin persahabatan yang harmonis di dunia, yang mampu menolong “sahabatnya” bila telah meninggal dunia. Inilah jalinan persahabatan dengan orang yang telah meninggal dunia. Melihat betapa pentingnya bentuk jalinan persahabatan sampai seseorang meninggal ini, maka sahabat yang masih hidup ini berpengaruh terhadap kesaksian atas amal sahabatnya yang telah meninggal itu.

Dari Amir bin Rabi’ah, Nabi bersabda, “Jika seseorang meninggal dan Allah mengetahui kejelekannya sedang orang-orang mengatakannya baik, maka Allah berfirman kepada Malaikat: Kalian jadi saksi bahwa Aku terima hamba-Ku atas hamba-Ku yang mati. Kuampuni dia dengan sepengetahuan-Ku..."

5. Menjalin Persahabatan dengan Alam Semesta.

Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw., adalah agama rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil’alamin). Kata ‘rahmat’ mencakup makna yang amat luas. Dari kata itu dapat difahami bahwa keselamatan, kesejahteraan, kesehatan, dan sejenisnya adalah rahmat yang perlu kita bangun untuk mewujudkannya serta mensyukurinya.

Untuk mencapai rahmat-rahmat tersebut, kita punya kewajiban untuk menjaga dan memfungsikan secara bijak atas alam semesta. Inilah namanya menjalin persahabatan dengan alam semesta.

Kita mengetahui dari awal, alam semesta diciptakan oleh Allah bukan main-main (dengan hak-Nya), dengan tujuan antara lain sebagai tanda kekuasaan Allah bagi yang berakal, mengetahui, bertaqwa, mau mendengarkan pelajaran, dan mereka yang memikirkan.

Selain itu, juga untuk memenuhi kebutuhan kehidupan manusia, sebagai suatu rahmat dari Allah; untuk kepentingan manusia dan menyempurnakan nikmat; untuk menguji semua manusia; siapa-siapa saja yang lebih baik amalnya dalam hidup ini.

Melihat begitu pentingnya alam semesta terhadap kelangsungan kehidupan manusia, maka kita perlu menjalin persahabatan (baca: menjaga lingkungan alam) sesuai dengan batas-batas ketentuan-Nya. Lagian, walau bagaimanapun lingkungan hidup itu mampu mempengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Jadi, posisi keselamatan lingkungan hidup ini, tentu memiliki porsi besar dalam menentukan kelangsungan kehidupan manusia di muka bumi ini.

Adanya beberapa bencana alam dewasa ini, seperti longsor, banjir kebakaran hutan, dll. Itu merupakan bukti manusia kurang bersahabat dengan alam semesta. Karena pada dasarnya, alam itu mampu menyeimbangkan dirinya sendiri, seandainya tidak terjadi keserakahan manusia.

Dalam hal ini, jalinan persahabatan terhadap alam ini tentu tidak terlepas pada dasar awal dari persahabatan itu sendiri. Yakni karena Allah SWT. Inilah landasan persahabatan yang sebaik-baiknya. Allah menginformasikan dalam surat Ar-Rum ayat 41, (yang artinya): “Telah timbullah kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan mereka sendiri, biar mereka dapat merasakan sendiri akibat perbuatannya, supaya kembali kepada Tuhan.”

Akhirnya, apa yang telah dipaparkan di atas, tidak lain adalah sesuatu yang mesti kita bina dengan jalinan persahabatan karena Allah. Yang untuk kondisi saat ini merupakan sesuatu yang terlihat mulai renggang ---kalau tidak mau disebut rapuh---.

Dan sesungguhnya persahabatan hakiki itu merupakan buah dari kebajikan akhlak, sedangkan tafarruq (perselisihan) tidak lain merupakan hasil dari kebejatan akhlak. Maka akhlak yang bagus akan membuahkan rasa saling cinta, saling bersatu, dan saling memberi manfaat; sedangkan akhlak yang buruk akan menghasilkan rasa saling membenci, saling mendengki, dan saling mencelakakan. Hanya Allah-lah sebaik-baiknya tempat kita kembali. Wallahu’alam.***
Majelis Taklim "THARIQUL ISTIQAMAH"0 komentar